Likkuaba.com – Felisitas Agtrisni Ina Mori, mahasiswi asal Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur, menunjukkan bahwa keberanian untuk melangkah mampu mengubah arah hidup seseorang. Perempuan yang dikenal melalui akun Facebook Risny Mori ini berasal dari Kalimbukowo, Desa Kabali Dana, Kecamatan Wewewa Barat, dan saat ini sedang menempuh semester enam di Jurusan Farmasi Klinis, Universitas Bali Internasional.
Pada awal kedatangannya di Bali, Felisitas mengaku hanya memiliki tujuan sederhana, yakni fokus mengikuti perkuliahan dan meraih nilai akademik yang baik.
Namun, dinamika kehidupan kampus perlahan mengubah cara pandangnya. Kampus tidak lagi ia maknai sekadar sebagai tempat mengejar gelar, melainkan ruang untuk bertumbuh, belajar berani, dan mengembangkan potensi diri.
Perubahan itu bermula dari langkah kecil ketika ia memberanikan diri mengikuti lomba badminton pada ajang PORSENIMA kampus. Dari kegiatan tersebut, ia mulai dikenal oleh para dosen dan kemudian diajak bergabung dalam klub badminton. Pengalaman itu menjadi titik balik yang menegaskan bahwa keberanian untuk mencoba dapat membuka peluang yang lebih besar.
“Sejak saat itu, saya tidak lagi ingin diam. Saya mulai aktif di organisasi HIMAFARM (Himpunan Mahasiswa Farmasi Klinis) bidang Pengabdian Masyarakat. Dari sana saya belajar banyak tentang tanggung jawab,” ujar Felisitas.
Di HIMAFARM, ia dipercaya mengemban sejumlah peran penting, di antaranya sebagai Sekretaris kegiatan APORE (Aku Apoteker Remaja) yang melakukan sosialisasi kesehatan ke SMA-SMA, Wakil Ketua PHARM CARE dalam kegiatan sosial di panti asuhan, serta Bendahara PHARM CLEAN yang berfokus pada aksi kebersihan pura bersama mahasiswa farmasi.
Sebagai mahasiswa asal Indonesia Timur yang berada dalam posisi minoritas, Felisitas tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah. Bersama rekan-rekannya, ia memperjuangkan pembentukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) keagamaan Kristen Protestan dan Katolik selama kurang lebih satu tahun. Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan terbentuknya UKM KMK (Keluarga Mahasiswa Kristiani).
“Saya dipercaya menjadi Sekretaris I pertama, bahkan sempat menjadi Ketua Panitia Natal. Pengalaman itu sangat menantang sekaligus melatih rasa percaya diri saya,” tuturnya.
Selain aktif berorganisasi, Felisitas juga mengembangkan minat dan bakat di bidang seni dan olahraga. Ia tergabung dalam Paduan Suara kampus serta melayani sebagai anggota koor di Gereja Katedral Denpasar. Melalui musik, ia belajar tentang harmoni, disiplin, dan kerja sama. Di bidang olahraga, bersama sahabatnya Aldo, ia berhasil meraih Juara 1 Badminton se-Bali dalam perlombaan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Katolik se-Bali.
Tak hanya itu, Felisitas juga bergabung dengan Korps Sukarela (KSR) PMI Kota Bali untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial. Di bidang akademik, ia pun sempat dipercaya menjadi asisten dosen pada mata kuliah praktikum, sebuah pengalaman berharga dalam mendampingi dan membantu adik tingkat memahami materi perkuliahan.
Perjalanan Felisitas sebagai mahasiswa rantau dari Sumba Barat Daya mengajarkannya satu pesan penting: seseorang tidak harus langsung hebat untuk memulai, tetapi harus berani melangkah untuk menjadi hebat. Dari niat awal yang sederhana, ia justru menemukan versi dirinya yang aktif, berani, dan bermanfaat bagi sesama.
Ia pun berpesan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa dari daerah, bahwa minoritas bukan alasan untuk berhenti dan keterbatasan bukan penghalang untuk terus berkembang. Setiap keberanian kecil yang diambil hari ini dapat menjadi awal perubahan besar di masa depan.***
Sumber: Sumba TV





