Likkuaba.com – Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bunu Wulla, mengungkapkan rencana besar pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Selama lima tahun masa kepemimpinannya, ia menargetkan mencetak 100 lulusan magister dan 10 lulusan doktor mulai tahun 2026.
Hal itu disampaikannya usai memberikan sambutan dalam rangka penerimaan anggota baru GMNI Cabang Sumba Barat Daya Angkatan XI di Kantor Desa Watukawula, Kecamatan Kota Tambolaka, SBD, Jumat, 28 November 2025.
“Lima tahun saya jadi bupati saya harus mencetak 100 orang magister dan 10 orang doctor. Itu perencanaan saya mulai tahun 2026 nanti. Yang mau ambil S2 itu bisa online,” ujarnya.
Bupati menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan anggaran bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, serta menjalin kerja sama dengan beberapa universitas untuk mendukung program tersebut.
“Jadi kami sudah siapkan anggarannya, anggaran sudah ada, tinggal nanti berhubungan dengan Kesra karena beberapa kerja sama kami dengan universitas. Jadi 3 universitas nanti teman-teman bisa kuliah ke sana, nanti biayanya dari Pemda, kuliahnya online,” ungkapnya.
Selain itu, Pemda juga menyediakan beasiswa untuk program doktoral. Berbeda dari S2 yang bisa ditempuh secara daring, program S3 mengharuskan mahasiswa mengikuti kuliah langsung di kampus tujuan.
“Jadi kita juga di Sumba Barat Daya sambil kuliah sambil kerja bisa. Yang berikutnya S3, S3 juga ada beasiswa. Tahun ini memang 4 orang, setiap tahun itu kurang lebih 4 orang. Saya sudah hitung-hitung anggarannya, setiap tahun 4 orang dan itu offline, harus kuliah di sana, tinggal di sana. Jadi kami siapkan anggarannya kurang lebih 135 sampai 150 juta per orang sampai selesai,” jelasnya.
Tidak hanya fokus pada pendidikan, Bupati juga menyinggung program pemberdayaan masyarakat yang tengah dipersiapkan untuk mendukung peningkatan ekonomi lokal. Ia membuka peluang bagi GMNI untuk turut terlibat.
“Kedepan juga ada kegiatan-kegiatan pemberdayaan dalam rangka mendukung MBG pengangkatan ekonomi masyarakat. Jadi kalau teman-teman dari GMNI mau juga terlibat, contohnya ada kelompok sekretariatnya maupun ayam petelur. Itu bisa, jadi kita kasih, setiap hari kita panen itu kan bagi piket,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa ruang keterlibatan GMNI akan diperluas dengan memanfaatkan program-program yang telah tersedia. Menurutnya, yang terpenting adalah selalu berkomunikasi yang lebih intens di masa mendatang.
“Nanti GMNI satu kelompok ini kita bagi dua. Kedepan banyak program-program, yang penting kita komunikasi agar bisa dimanfaatkan oleh kawan-kawan semua atau mungkin keluarga dan saudara,” tutupnya.***





