TAMBOLAKA, LIKKUABA.COM – Pater Robert Ra Mone menyampaikan pesan menyentuh dan penuh kejujuran saat merayakan 40 tahun hidup membiara dan meresmikan Kapela Rumah Budaya di Sumba.
Dalam khobahnya, ia tak hanya bicara soal keindahan alam Sumba yang memukau dunia, tapi juga membuka mata banyak pihak tentang kenyataan pahit yang masih dirasakan masyarakat.
“Sumba itu salah satu dari 33 pulau terindah di dunia. Bahkan sekarang jadi destinasi wisata nomor satu paling top. Tapi di kampung saya, sejak langit dan bumi diciptakan sampai hari ini, belum ada listrik,” kata Pater Robert lantang di hadapan para tamu undangan, termasuk Bupati Sumba Tengah dan sejumlah tokoh Katolik dari Jakarta.
Pater Robert mengaku tumbuh besar di lingkungan yang tanpa listrik.
Baca Juga: Ketua Kelompok Jual Kambing Demi Bayar HOK: Reboisasi SBD Sarat Masalah, APH Diminta Selidiki
“Itu realita. Keindahan pulau kami tidak sejalan dengan kehidupan masyarakatnya. Stunting, kemiskinan, anak-anak putus sekolah masih terjadi di mana-mana,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi anak-anak di kawasan wisata seperti Danau Weekuri yang lebih sibuk menawarkan jasa foto ke wisatawan ketimbang duduk di bangku sekolah.
“Harusnya mereka sekolah, bukan kerja. Tapi siapa yang peduli? Siapa yang bimbing mereka?” tambahnya.
Pater Robert juga menyinggung bahwa bersama rekan-rekannya, ia kini gencar melakukan pewartaan berbasis budaya.
Baca Juga: Mutasi Besar di Polda NTT! 7 Kapolres Diganti, Putra Sumba Barat Pimpin Polres Sendiri
Ia menegaskan Rumah Budaya yang dibangun tidak hanya melestarikan benda mati, tetapi juga membangkitkan kebanggaan dan jati diri orang Sumba.
Sementara itu, Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu, dalam sambutannya turut mengapresiasi perjuangan Pater Robert.
Ia menyebut Sumba punya kekayaan alam luar biasa, bahkan lebih dari Flores, namun kualitas sumber daya manusia masih jadi tantangan besar.
“Kalau hanya bangun rumah budaya tapi tidak bangun manusianya, itu percuma. Kita harus bangun pendidikan. Kita harus cetak generasi andal dari semua kabupaten, bukan cuma dari Sumba Timur,” ujar Paulus.
Baca Juga: Tragis! ART Asal NTT Disiksa di Batam, Umbu Rudi: Segera Tangkap dan Adili Majikannya!
Ia mengungkapkan bahwa berbagai pihak kini turun tangan untuk membantu mengatasi stunting di Sumba.
Salah satunya adalah kerja sama dengan para pengusaha Katolik dari Jakarta yang secara sukarela mendukung program kemanusiaan tanpa mengandalkan dana pemerintah.
“Baru seminggu bergerak, sudah terkumpul Rp 3 miliar. Target kita bisa tembus Rp 5 miliar. Ini kekuatan orang-orang yang punya hati,” tegasnya.
Pernyataan jujur Pater Robert malam itu menjadi cermin bagi banyak pihak: bahwa di balik potret eksotis Pulau Sumba, ada kehidupan rakyat yang belum menikmati terang, baik secara harfiah maupun harapan. (LA/PN)





