
TAMBOLAKA, LIKKUABA.COM – Kasus pembunuhan Gregorius Besu alias Goris, pemuda asal Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar.
Setahun lebih sejak peristiwa tragis itu terjadi, belum ada kepastian hukum yang menjerat pelaku.
Desakan terhadap aparat penegak hukum pun kembali menguat, datang dari berbagai pihak, mulai dari keluarga korban hingga anggota DPRD Kabupaten SBD. Mereka menuntut transparansi dan keseriusan dalam penanganan kasus ini.
Baca Juga: BUMDes Kalena Wanno Gelar Rapat LPJ, Pendamping Desa Hadir, Laporan Siap Disetor ke PMD
Goris ditemukan tewas pada 5 Juni 2024 di perbatasan Desa Weepangali, Kecamatan Kota Tambolaka, dan Desa Lombu, wilayah hukum Polsek Wewewa Timur.

Kematian korban disebut terjadi saat hari mulai terang, di saat anak-anak sudah bersiap berangkat ke sekolah.
Namun hingga kini, proses penyelidikan oleh pihak kepolisian belum memperlihatkan hasil yang signifikan.
Baca Juga: Serasa di Luar Negeri! Sabana Bergelombang Bukit LDR di Sumba Barat Daya Bikin Takjub
Ibunda korban, Beatriks Dada Ngongo, mengungkapkan kekecewaannya terhadap lambatnya penanganan kasus.
Ia berharap Polres Sumba Barat Daya segera mengungkap pelaku demi keadilan untuk putranya.
“Sampai sekarang belum ada kepastian. Kalau anak saya mati karena sakit, saya bisa terima. Tapi ini dibunuh. Tidak ada masalah sama orang, kok bisa dibunuh seperti itu?” keluhnya.
Baca Juga: Begini Liburan Melkianus Lubalu, Bersama Sien Wadoe, Wisata Spiritual hingga Selfie di KLCC
Sorotan juga datang dari kalangan legislatif. Bernardus Bulu, anggota DPRD dapil Kota Loura sekaligus mantan birokrat, menilai kinerja penyidik belum maksimal.
Ia menyebut, sejak awal penyelidikan sempat ditangani Polsek Wewewa Timur sebelum akhirnya diambil alih oleh Satreskrim Polres SBD, namun perkembangan kasus tetap stagnan.
“Sudah ada petunjuk saat itu. Ada jaket korban, HP korban, dan sejumlah saksi. Tapi sampai hari ini publik belum tahu sejauh mana prosesnya. Ini menjadi tanda tanya masyarakat,” ujar Bernard.
Baca Juga: Mutasi Besar di Polda NTT! 7 Kapolres Diganti, Putra Sumba Barat Pimpin Polres Sendiri
Menurutnya, keterbukaan aparat kepolisian dalam menangani kasus seperti ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Ia pun berharap proses hukum dapat dilakukan dengan profesional dan tuntas.
Beberapa tokoh masyarakat juga menyatakan keprihatinan. Mereka menilai, lambatnya pengungkapan kasus ini bisa menggerus kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Kini, keluarga dan warga sekitar hanya bisa berharap agar keadilan tidak menjadi angan-angan. Mereka menunggu komitmen nyata dari aparat hukum untuk mengungkap siapa pelaku di balik kematian tragis Goris Besu.
Penulis: Paul Ngongo
Editor: Tim Redaksi Likku Aba








