Elang Melawan Ular : Media di Sumba Barat Daya Harus Terbang Tinggi Ungkap Korupsi hingga Tak Berdaya

oleh
Elang Melawan Ular : Media di Sumba Barat Daya Harus Terbang Tinggi Ungkap Korupsi hingga Tak Berdaya(Dok. Istimewa)

LIKU ABA – Dalam dunia binatang, seekor elang tak pernah bertarung dengan ular di tanah. Ia tahu, di darat, ular lebih lincah, berbisa, dan mematikan. Karena itu, strategi elang sederhana tapi jitu: mencengkeram ular dan membawanya terbang tinggi ke udara ke tempat di mana ular kehilangan daya. Di sanalah kemenangan elang ditentukan, bukan karena kekuatan fisiknya, melainkan kecerdasannya mengubah medan pertempuran.

Analogi ini menjadi gambaran nyata perjuangan melawan korupsi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT). Koruptor hanya kuat ketika bertarung di “darat”: di ruang gelap kekuasaan, dalam tumpukan dokumen, dan di balik jaringan birokrasi yang sulit disentuh publik. Namun ketika kasus diangkat ke “udara” ke ruang transparansi dan sorotan media kekuatan mereka melemah, kepanikan muncul, dan topeng kekuasaan runtuh.

Media: Sayap Elang Kebenaran

Dalam konteks Sumba Barat Daya dan NTT pada umumnya, peran media dan jurnalis ibarat sayap elang yang menjaga kebenaran tetap hidup. Wartawan memiliki kemampuan untuk melihat dari ketinggian, menemukan pola penyimpangan yang luput dari pandangan masyarakat, lalu menukik tajam untuk mengungkap fakta di balik penyalahgunaan anggaran publik.

Kasus dugaan korupsi dana BOS dan proyek infrastruktur pendidikan di sejumlah wilayah NTT, termasuk Sumba Barat Daya, menjadi contoh bahwa peran media belum boleh redup. Banyak laporan awal sempat mengemuka, tetapi sejumlah kasus seolah berhenti di tengah jalan menguap tanpa kejelasan tindak lanjut. Ketika media berhenti menyorot, ruang gelap kembali terbuka lebar bagi “ular birokrasi” untuk bergerak bebas.

Dari Fakta ke Tekanan Moral

Korupsi tidak tumbuh hanya karena ada satu pelaku serakah, tetapi karena sistem yang diam, publik yang lupa, dan media yang bungkam. Di Sumba Barat Daya, sinergi antara jurnalis, akademisi, dan masyarakat sipil perlu diperkuat agar kasus dugaan penyimpangan dana publik tidak berakhir pada laporan yang sunyi.

Media memiliki kekuatan menciptakan tekanan moral yang jauh lebih besar daripada tekanan hukum. Berita berbasis data dan bukti dapat menjadi senjata etis untuk memaksa pejabat publik bertanggung jawab. Ketika fakta disiarkan terus-menerus, opini publik menjadi kesadaran bersama, dan koruptor kehilangan ruang untuk bersembunyi.

NTT: Arena Ujian Moral Media

Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini menjadi arena ujian moral bagi media lokal. Kasus dugaan penyalahgunaan dana BOS, proyek jalan, dan bantuan sosial menunjukkan bahwa transparansi masih menjadi tantangan besar. Di Sumba Barat Daya sendiri, masyarakat mulai menaruh harapan besar kepada pers lokal untuk menjadi penjaga integritas dan juru bicara kejujuran publik.

Ketua Forum Guru NTT, dalam salah satu diskusi di Tambolaka, menilai bahwa perjuangan wartawan daerah sangat berat karena sering dihadapkan pada tekanan kekuasaan. Namun perjuangan itu tak boleh berhenti. Diperlukan kolaborasi lintas redaksi (cross-newsroom collaboration) agar data dan temuan dapat diolah bersama secara independen. Dengan begitu, isu korupsi tidak mudah dipadamkan oleh kekuatan politik.

Ubah Arena Pertempuran

Menghadapi korupsi berarti mengubah medan tempur. Jangan bertarung di tanah birokrasi tempat para pelaku lebih berkuasa. Naiklah ke udara, ke ruang publik yang terang benderang, di mana transparansi menjadi oksigen dan data menjadi senjata.

Dalam konteks Sumba Barat Daya, strategi ini berarti membuka akses informasi publik, memperkuat jurnalisme investigatif, dan melibatkan masyarakat dalam kontrol sosial. Ketika kasus diangkat secara terbuka di media, setiap kebohongan akan kehilangan pijakan, dan ular korupsi akan kehilangan napasnya di udara kebenaran.

Pendidikan Moral bagi Bangsa

Korupsi di sektor pendidikan adalah pengkhianatan terhadap masa depan anak-anak bangsa. Dana yang seharusnya mencerdaskan justru dikorupsi oleh mereka yang seharusnya menjaga amanah. Karena itu, guru dan wartawan memiliki misi yang sama: membangun karakter bangsa. Guru menanamkan nilai kejujuran di kelas, wartawan menanamkan kesadaran publik melalui pemberitaan yang berani dan berbasis fakta.

Keduanya adalah benteng moral yang saling melengkapi. Di Sumba Barat Daya, di mana semangat membangun masih terus tumbuh, integritas media dan pendidikan menjadi kunci menciptakan generasi yang tidak takut pada kebenaran.

Penutup: Terbanglah Lebih Tinggi

Elang tidak bertarung di tanah karena tahu kekuatannya ada di langit. Demikian pula media: kekuatannya bukan pada kedekatan dengan kekuasaan, melainkan pada keberanian mengungkap kebenaran.

Saat ini, ketika aroma korupsi masih menyelimuti sektor publik, para jurnalis di Sumba Barat Daya dan NTT harus mengasah sayap elang mereka. Terbanglah lebih tinggi, angkat setiap persoalan ke ruang transparansi. Karena di ketinggian itulah ular korupsi akan tak berdaya dan di sanalah kemenangan moral bangsa dimulai.***

No More Posts Available.

No more pages to load.