Wewawa Barat, Likkuaba – kapolsek wewawa barat, Ipda Elfred Arun, membenarkan adanya laporan kasus penganiayaan terhadap warga Weekombak berinisial LN yang diduga dianiaya oknum Kepala Desa Weekombak berinisial MBL.
“Anggota yang piket tadi sudah diarahkan ke Polres untuk laporannya kaka. Selanjutnya akan ditangani Reskrim,” ujarnya saat dikonfirmasi media likkuaba.com melalui sambungan telepon tadi.
Peristiwa itu terjadi di rumah korban di Kampung Reda Mata, Desa Weekombak, Kecamatan Wewawa Barat, Sumba barat daya, sekitar pukul 14.00 WITA siang tadi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun wartawan, keluarga korban menyampaikan bahwa oknum kepala desa diduga datang ke rumah korban dalam kondisi terpengaruh minuman keras untuk membicarakan kerbaunya yang ada di korban sebagai bentuk balasan sesuai adat Sumba.
Saat itu, kejadian tak kunjung lama kades diduga langsung memukul mulut korban pada bagian bibir, mulut korban luka dan berdarah.
Menurut keterangan LN, babi miliknya berada pada kepala desa selama empat bulan setelah cucunya meninggal empat tahun lalu. Ketika ia meminta agar babi tersebut dikembalikan, kepala desa tidak memberikan tanggapan.
“sudah empat tahun babi saya ada dia setelah meninggal cucunya saya nima saya kastau dia supaya dia ganti kembali saya punya babi untuk bisa isi kekurangan lain saya bilang begitu namun kepala desa tidak ada tanggapan,” ujarnya.
LN menambahkan bahwa ia siap mengganti kerbau milik kepala desa. Namun, menurutnya, janji kepala desa untuk mengganti kerbau miliknya belum dipenuhi karena orang yang dijanjikan dalam proses adat belum meninggal, sehingga LN belum bisa melakukan penggantian sesuai aturan adat Sumba.
“kerbau kepala desa saya siap ganti karena Bulu Kadege, yang dijanjikan kepala desa belum meninggal. Saya tidak menyangkal,” ungkapnya.
Dirinya juga menegaskan bahwa kasus ini harus dilaporkan kepada pihak berwenang agar diproses sesuai hukum.
“saya lapor supaya dia bisa jelaskan kenapa dia buat saya seperti ini,” tambahnya.
Istri korban, Maria Dappa Wini, yang berada di lokasi saat kejadian, mengeluhkan peristiwa tersebut.
“Kepala desa langsung ayun dia punya parang untuk saja tidak membunuh LN, sementara LN, tidak memakai baju saya masuk di tengah-tengah mereka,” ujarnya.
Maria menambahkan bahwa pada saat kejadian hanya ia dan anaknya yang berada bersama korban di kediamannya.
“Yang ada pada saat kejadian saya bersama anak saya,” jelasnya.
Keluarga korban kini tengah berembuk untuk segera melaporkan kejadian tersebut ke pihak yang berwenang agar diproses secara hukum.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada laporan resmi dari kepolisian terkait perkembangan kasus ini.***






