Kartini dan Kekerasan yang Berulang di Sumba Barat Daya

oleh
Hari kartini (opini)

Oleh Dominggus Ghoghi, Ketua Mandataris RUAC/Furmatur Tunggal/Ketua Presidium PMKRI Cabang Tambolaka Periode 2026-2027.

 

Likkuaba.com – Setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Raden Ajeng Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan keluar dari ketidakadilan. Kartini hidup dalam zaman yang membatasi perempuan pada ruang sempit, dengan akses pendidikan yang terbatas dan posisi sosial yang ditempatkan di bawah laki-laki. Melalui surat-suratnya yang kemudian dihimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, ia menyampaikan satu hal yang sederhana sekaligus radikal pada masanya perempuan berhak menentukan hidupnya sendiri.

Gagasan Kartini tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Ia adalah kritik terhadap struktur sosial yang timpang, sekaligus seruan untuk membongkar praktik ketidakadilan yang diwariskan tanpa banyak dipertanyakan. Emansipasi yang ia maksud bukan hanya soal ruang domestik, melainkan tentang kebebasan manusia dari segala bentuk penindasan yang dilegitimasi oleh adat, kekuasaan, dan kebiasaan.

Namun lebih dari satu abad kemudian, pertanyaan itu tetap ada sejauh mana perempuan benar-benar telah merdeka. Di berbagai daerah, termasuk di Sumba Barat Daya, jawaban atas pertanyaan ini tidak selalu meyakinkan. Peringatan Kartini berjalan setiap tahun, tetapi kekerasan terhadap perempuan dan anak tetap hadir sebagai peristiwa yang berulang.

Media massa terus mencatat kasus-kasus kekerasan yang dominan dialami perempuan dan anak di wilayah ini. Bukan lagi peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan rangkaian kejadian yang membentuk pola. Baru-baru ini, publik kembali disuguhi kasus kekerasan yang menimpa seorang guru di Sumba Barat Daya. Peristiwa semacam ini seperti menjadi paragraf lanjutan dari cerita panjang yang belum menemukan titik akhir.

Dalama perspektif PMKRI, situasi ini tidak bisa lagi dibaca sebagai peristiwa kasuistik yang berdiri sendiri, melainkan sebagai kegagalan struktural yang dibiarkan berlangsung tanpa koreksi serius. PMKRI memandang bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumba Barat Daya adalah bentuk nyata dari ketidakadilan sosial yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan martabat ciptaan.

Dalam semangat kekatolikan dan kebangsaan, negara dan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk menghadirkan perlindungan yang konkret, bukan sekadar retorika seremonial. Karena itu, PMKRI mendesak keberpihakan yang tegas melalui penegakan hukum tanpa kompromi, pendidikan kritis yang membebaskan, serta pembongkaran cara pandang yang terus menempatkan perempuan sebagai pihak yang bisa dikorbankan. Tanpa itu, peringatan terhadap semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini hanya akan menjadi ritual tahunan yang hampa makna.

Dalam banyak kasus, perempuan dan anak berada pada posisi yang rentan. Mereka tidak sepenuhnya memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Kerentanan ini tidak lahir tiba-tiba, tetapi berakar pada cara pandang yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang lemah dan harus tunduk. Cara pandang ini kemudian menciptakan ruang pembenaran terhadap berbagai bentuk kekerasan, baik fisik, psikis, maupun yang bersifat struktural.

Di titik ini, peringatan Kartini menjadi ironi. Di satu sisi, bangsa ini merayakan emansipasi. Di sisi lain, masih ada perempuan-perempuan yang hidup dalam ketakutan dan keterbatasan. Di tanah Marapu, Rambu, Yabbu, Inna masih menangis, sering kali tanpa ruang untuk bersuara. Air mata itu tidak hanya mencerminkan penderitaan individu, tetapi juga menunjukkan adanya kegagalan kolektif dalam menghadirkan perlindungan yang adil.

Kartini pernah membayangkan masa depan yang berbeda bagi perempuan. Tetapi di Sumba Barat Daya, masa depan itu belum sepenuhnya hadir. Selama kekerasan masih terjadi dan dianggap sebagai hal yang biasa, selama itu pula semangat Kartini belum benar-benar sampai. Peringatan tahunan menjadi kehilangan makna jika tidak diikuti dengan perubahan yang nyata.

Karena itu, Hari Kartini seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni. Perlu dibaca sebagai pengingat bahwa pekerjaan yang ditinggalkan Kartini belum selesai. Dan di Sumba Barat Daya, pekerjaan itu masih menunggu untuk benar-benar dimulai.***

No More Posts Available.

No more pages to load.