Ketika Ambisi ASN Guru Mengorbankan Hak Pelajar

oleh

Oleh: Guntur Samuel Dappasapu, Mahasiswa Universitas Stella Maris (Unmaris) Sumba

OPINI, LIKKUABA.COM – Fenomena guru yang berlomba-lomba mengejar status sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) bukanlah hal baru. Namun, ada satu hal yang luput dari perhatian: siswa. Mereka yang seharusnya menjadi fokus utama pendidikan justru kerap menjadi pihak yang dirugikan dalam proses ini.

Waktu dan energi guru yang seharusnya dicurahkan untuk mendidik dan membimbing siswa kini terpecah. Banyak guru yang lebih sibuk menyelesaikan tugas kuliah, mengikuti pelatihan, atau mengejar sertifikasi, demi satu gelar yang menjanjikan: ASN. Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk meningkatkan kualitas diri. Tapi, ketika ambisi pribadi mengalahkan tanggung jawab profesional, maka ada sesuatu yang keliru.

Beban kerja guru pun meningkat. Di satu sisi mereka dituntut hadir secara akademik di bangku kuliah, di sisi lain tetap harus mengajar dan mendampingi siswa di kelas. Tekanan ini tidak jarang menciptakan kelelahan fisik dan emosional yang berdampak pada kualitas pengajaran. Siswa tidak lagi mendapatkan perhatian penuh. Interaksi menjadi formalitas, dan proses belajar-mengajar kehilangan maknanya.

Baca Juga: Menjadikan Hidup Sebagai Perjalanan Bertumbuh, Bukan Sekadar Bertahan

Yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya ketimpangan dalam akses pendidikan. Guru yang terlalu fokus pada ambisi pribadi sering kali mengabaikan siswa-siswa dari kelompok kurang mampu. Mereka yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih, justru tercecer di belakang. Ketidakadilan ini mengancam hak pelajar untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Siswa yang merasa diabaikan cenderung kehilangan motivasi. Mereka mulai merasa bahwa sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan, tapi sekadar kewajiban. Padahal, lingkungan belajar yang positif adalah kunci dalam membangun karakter, minat, dan masa depan mereka.

Pemerintah, dalam hal ini, harus lebih peka. Program pelatihan dan peningkatan kompetensi guru memang penting, tetapi jangan sampai membuat guru terjebak dalam rutinitas administratif yang mengabaikan sisi kemanusiaan pendidikan. Perlu ada kebijakan yang memungkinkan guru mengembangkan diri tanpa meninggalkan siswa.

Baca Juga: Pengendara di SBD Waspada! 7 Pelanggaran Ini Jadi Target Utama Operasi Patuh

Saya percaya, pendidikan tidak hanya soal pencapaian gelar, tapi tentang membentuk manusia seutuhnya. Guru bukan hanya pengajar, tapi panutan. Ketika mereka terlalu sibuk mengejar pengakuan formal, maka nilai-nilai inspiratif yang seharusnya mereka tanamkan justru memudar.

Kesejahteraan guru juga menjadi kunci penting. Pemerintah harus hadir untuk memastikan bahwa guru bisa hidup layak tanpa harus mengorbankan waktu mereka bersama siswa. Ketika guru merasa dihargai, mereka akan lebih ikhlas dan semangat dalam menjalankan peran mereka sebagai pendidik.

Menjadi ASN adalah hak, tetapi mengabaikan hak pelajar adalah sebuah pelanggaran moral. Sudah saatnya kita bicara jujur: pendidikan bukan hanya tentang guru yang naik jabatan, tapi tentang siswa yang berkembang dan berdaya.

Jika kita ingin pendidikan yang berkualitas, maka kita harus memulai dari kesadaran. Bahwa setiap guru punya tanggung jawab, dan bahwa setiap siswa berhak mendapatkan perhatian penuh. Kesadaran ini adalah fondasi dari masa depan pendidikan Indonesia.

Editor: Paulus Malo Ngongo

No More Posts Available.

No more pages to load.