Pengaruh Tradisi Belis pada Kesejahteraan Mental Perempuan dalam Pernikahan Adat Sumba

oleh
Orce Dapa Ambo, Mahasiswi Magister Psikologi Sains, Unika Soegijapranata Semarang
Orce Dapa Ambo, Mahasiswi Magister Psikologi Sains, Unika Soegijapranata Semarang (Likku Aba/Dok.Ist)

Oleh: Orce Dapa Ambo, Mahasiswi Magister Psikologi Sains, Unika Soegijapranata Semarang

Sumba sangat kaya dengan adat/istiadat dan budaya yang mengatur seluruh kehidupan orang Sumba, salah satunya ialah budaya membelis perempuan. setiap laki-laki yang telah siap untuk menikah adat dengan seorang perempuan maka ia harus memenuhi apa yang menjadi ketentuan dalamnikah adat. Ketentuan tersebut ialah memberi belis/mahar pada perempuan berdasarkan jumlah yang telah disepakati bersama dalam pertemuan ada sebelumnya. Belis ialah simbol penghormatan terhadap perempuan, serta menandakan adanya ikatan emosional kedua keluarga besar. Suksin& Rahmiyat (2025). Belis adalah mas kawin/mahar yang diberikan kepada perempuan saat peminangan berlangsung. belis yang diberikan pada perempuan dapat berupa hewan, yakni kuda dan kerbau, Mamuli, parang, kain dan sarung adat Sumba dengan jumlah yang telah disepakati bersama keluarga perempuan. Steven&Yunanto(2019). Belis adalah simbol kehormatan baik dari laki-laki maupun perempuan; simbol prestise, prestasi, dan status bagi perempuan dan laki. Doni Kleden(2017). jadi pemberian belis dan membelis adalah simbol kedawasaan dan kesiapan seseorang untuk menikah adat dengan seorang perempuan Sumba.

Dalam pernikahan adat di Sumba, pihak laki-laki akan datang ke rumah Perempuan yang akan dinikahi, dengan membawa mahar sebagai bentuk tanggung jawab, kesediaan, dan penghargaan. Perempuan yang dibelis, bersama keluarganya akan mempersiapkan hewan balasan sebagai symbol penerimaan pada pihak laki-laki. Dengan belis yang diberikan perempuan merasa terhormat, dihargai dan dikasihi. Proses pembelisan pada umumnya melewati 3 tahap, yakni perkenalan awal, masuk-minta, penyerahan belis/perempuan pindah suku dan balasan dari pihak perempuan.

Tradisi belis/mahar sudah ada sejak sejak dulu kala mulai dari terbentuknya suku atau klan yang mengatur kehidupan yang berkelompok ini menjadi kehidupan yang harmonis dan memiliki hubungan keluarga yang baik. Kleden (2003), dan Maria Lede,dkk(2018), mengatakan bahwa Belis ini adalah warisan leluhur masayarakat Sumba dari generasi ke generasi dengan tujuan untuk menghargai, menggormati satu dengan yang lainnya. dengan demikian pemberian belis terus dilakukan hingga saat ini dengan menerapkan makna belis yang sesungguhnya.

Baca Juga: Wisuda STIPAS Kupang Dihadiri Gubernur NTT, Mayoritas Lulusan Perempuan Siap Jadi Pendidik Hebat

Tujuan dari pembelisan terhadap perempuan sebagai penghargaan dan penghormatan bagi perempuan, sahnya sebuah pernikahan adat, adanya keterikatan antar laki-laki dan perempuan serta terjalinnya hubungan kekeluaargaan antar dua keluarga besar. Dengan memberi belis maka nikah adat secara budaya dapat di sahkan berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan. Memberi belis menunjukkan keseriusan yang melambangkan tanggung jawab besar dari laki-laki untuk perempuan. Maka dengan ini perempuan sangat dihargai oleh laki-laki dan keluarganya.

Dalam pengamatan penulis saat ini, tradisi belis perempuan menjadi moment yang sangat dibanggakan oleh setiap orang yang akan menikah adat, karena pada moment ini pihak laki-laki dapat memperlihatkan tanggungjawabnya, kesiapannya, untuk menikahi seorang perempuan dengan adat. Keunikan dalam tradisi belis ketika dijalankan berdasarkan makna belis itu sendiri tanpa harus mengubahnya kearah negative. Maka dengan ini tradisi belis akan sangat bersumbangsih besar pada perempuan dan laki-laki yang menikah adat. Sumbangsi itu dilihat dari kesejahtaraan mental perempua dalam nikah adat.

Belis dalam Kesejahteraan mental perempuan Sumba

Pengaruh belis dalam kehidupan perempuan Sumba sangat signifikan dan sangat kompleks. ini di karenakan belis menjadi bagian dari identitas budaya Sumba dan peran sosial perempuan Sumba dalam masyarakat belis dan kesejahteraan mental perempuan Sumba. Misalnya perempuan yang telah dibelis akan mendapat kedudukan kusus secara sosial, perempuan mendapatkan dukungan untuk ada diruang publik, perempuan diberi kesempatan yang setara dengan laki-laki. Nilai-nilai kesetaraan dapat dihidupi secara bersama, sehingga perempuan dapat pengaruh postitif pada mental perempuan yang menikah adat:

Baca Juga: Melkianus Lubalu, Sosok Dermawan yang Tetap Rendah Hati Meski Berlibur ke Kuala Lumpur

Belis sebagai Prestise bagi perempuan, tingginya derajat perempuan dalam keluarga laki, perempuan merasa harga dirinya tinggi sehingga, berdampak dalam kehidupan sosial bersama, keluarga dan masyarakat, belis memiliki nilai tanggung jawab, jujur, yang mesti dihidupi saat menikah adat atau meminang perempuan Sumba. Kardila,dkk (2021).

Belis sebagai pengakuan dan harga diri, berdasarkan journal yang telah dibaca belis dapat memberi dampak baik yang besar bagi perempuan, dimana derajat perempuan semakin tinggi, merasa lebih dihargai, diterima, dan diberi ruang untuk ada dalam rana publik ; rasa memiliki dalam keluarga laki-laki, serta menerima pengakuan atas kontribusi baik dalam keluarga. Belis dapat menjadi tekanan mental bagi perempuan jika tidak sesuai dengan ekspekspektasi dirinya, keluarga dan masyarakat, sehingga berdampak pada pembatalan atau penundaan nikah adat.

Pengaruh negatifnya pada mental perempuan yang menikah adat:

Belis dimaknai sebagai alat transaksional artinya dengan memberi belis kepada perempuan maka laki-laki telah membeli seorang perempuan. Hal ini dapat berdampak pada kekerasan fisik berupa kekerasan dalam rumah tangga dan psikis berupa kata-kata cacian, merendahkan, dan membully. Lebih lanjut jika, belis yang diberikan saat nikah adat tidak sesuai dengan kesekapakatan bersama, maka akan menimbulkan kecemasan, tekanan bagi perempuan, sehingga menggiring opini adanya ketidakadilan karena belis yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang terjadi.

Dengan demikian penulis ingin menyarankan beberapa hal bagi pembaca terkait dengan belis dalam budaya Sumba yakni mengembalikan makna belis sebagai symbol penghormatan bagi perempuan dan laki-laki demi keharmonisan dan kehidupan yang setara. Untuk dapat mecapai makna ini maka perlu keterlibatan dari tokoh adat, Masyarakat, Gereja dan Pemerintah untuk menyuarakan secara bersama.

Daftar Pustaka

Steven& Yonatan.,(2019). Pengaruh Belis dalam Masyarakat Sumba. Journal Pemikiran dan penelitian Psikologi. 15(2).

Mataradja,dkk.,(2022). Dinamika Psikologis Perkawinan Budaya Belis. Journal Ilmiah Bimbingan Konseling Undiksha. 13(2),3-6

Kleden, Doni.,(2017). Belis dan Harga Perempuan Sumba Perkawinan Adat Suku Wewewa, Sumba Barat Daya, NTT. Journal Studi Budaya Nusantara.1(1),25,33-34

Suksin,Rahmiyati, Tesis : “dampak tradisi Belis dalam perkawinan adat perspektif Urf dan teori Ulititanan Studi perkawinan adat di Kota Kupang”(Malang: UIMMI, 2025),hal.5-7

Kardila,dkk.,(2021). Makna Belis dalam perkawinan adat pada masyarakat Gumbang Desa Riung kecamatan Cibal, Manggarai. Journal Pendidikan Sejarah.9(3).

Andro Ndaparoka,(2o22). Pembelisan Adat dalam perkawinan adat Sumba. Journal Mitra Manajemen. 6(1). hlm 22

No More Posts Available.

No more pages to load.