TAMBOLAKA, LIKKUABA.COM — Kritik tajam diarahkan ke aparat kepolisian Polres Sumba Barat Daya (SBD) menyusul perbedaan mencolok dalam penanganan dua kasus hukum yang mencuat di wilayah Kota Tambolaka.
Masyarakat menyoroti lambannya penanganan kasus dugaan penyelewengan dana nasabah BNI oleh oknum petugas BRILink Cendana Wangi, sementara kasus dugaan penganiayaan terhadap Kepala Desa Weepangali yang disebut sarat rekayasa langsung direspons cepat dengan pemeriksaan terhadap warga.
Kasus BRILink telah dilaporkan sejak tiga bulan lalu oleh korban Maksiana Lende yang kehilangan lebih dari Rp28 juta dari rekening BNI miliknya usai melakukan transaksi di BRILink Cendana Wangi. Namun hingga kini, belum ada kepastian hukum dari kepolisian.
Baca Juga: Nasabah BNI di Sumba Barat Daya Rugi Puluhan Juta, Diduga Uang Digerogoti Oknum BRILink
“Benar sudah ada laporan. Nanti saya cek lagi berkasnya,” ujar Kasat Reskrim Polres SBD, AKP I Ketut Rai Artika, Senin (4/8/2025), saat diwawancarai soal perkembangan laporan nasabah tersebut.
Berbeda dengan kasus itu, dalam insiden yang terjadi pada Selasa, 29 Juli 2025, di Desa Weepangali, seorang warga bernama Rudi langsung diperiksa usai dilaporkan oleh Kepala Desa Fransiskus Umbu Geti dengan tuduhan telah melukai tangan sang kades.
Namun, hasil penelusuran lapangan serta sejumlah video yang beredar justru menunjukkan kejanggalan. Dalam video tersebut terlihat Rudi dikejar dan diserang oleh beberapa aparat desa, tetapi tidak ada kontak langsung dengan Kepala Desa.
Baca Juga: Buntut Uang Nasabah BNI Disedot, Warga Minta BRILink Cendana Wangi di Tambolaka Dievaluasi
Dari keterangan saksi dan pengakuan Rudi, disebutkan bahwa Kepala Desa sendiri yang melukai tangannya saat menarik parang milik Ketua RT yang disimpan dalam kantor desa.
“Saya tidak pernah menyentuh Kepala Desa. Dia sendiri yang masuk ruangan, saya sibuk menangkis serangan dari aparat desa,” ujar Rudi, Selasa (30/7/2025).
Warga setempat juga menduga insiden tersebut direkayasa untuk menjatuhkan Rudi. Seorang saksi yang meminta namanya dirahasiakan menyatakan bahwa cerita di kalangan masyarakat menyebut luka Kepala Desa adalah akibat kelalaiannya sendiri.
Baca Juga: Usai Uang Nasabah BNI Diduga Disedot, Pemilik BRILink Cendana Wangi Siap Diperiksa Polisi
“Kades tarik parang keras-keras dari sarung milik RT, lalu tangannya sendiri kena. Tapi malah menuduh warga sebagai pelaku,” katanya.
Perbedaan kecepatan penanganan antara kasus dugaan BRILink dan kasus laporan Kades Weepangali ini memunculkan pertanyaan publik terkait keberpihakan aparat hukum.
“Laporan BRILink sudah masuk tiga bulan lalu, tapi belum ditindak. Sementara Kades baru lapor langsung diperiksa, padahal bukti video bertentangan dengan pengakuannya,” ujar seorang aktivis mahasiswa di Tambolaka.
Baca Juga: Kasus Dugaan Dana Nasabah BNI Disedot, Polisi Benarkan Laporan, Pemilik BRILink: Kami Siap Diperiksa
Pemilik BRILink Cendana Wangi sendiri, Aci, telah menyatakan kesiapannya untuk diperiksa oleh pihak kepolisian jika diperlukan.
“Kalau dipanggil polisi kami siap menghadap untuk memberikan klarifikasi,” tegas Aci, Rabu (6/8/2025).
Kini, warga menuntut evaluasi menyeluruh terhadap kinerja aparat desa di Weepangali serta mendesak aparat kepolisian untuk bersikap adil, transparan, dan profesional dalam menangani dua kasus ini.
“Jangan tajam ke bawah, tumpul ke atas. Kalau masyarakat kecil langsung ditangkap, yang diduga korupsi atau rekayasa dibiarkan. Ini mencederai rasa keadilan,” ujar Lukas.
Kedua kasus tersebut kini menjadi perhatian serius warga Tambolaka dan organisasi sipil di Sumba Barat Daya, yang menuntut agar kepolisian tidak tebang pilih dan menjunjung supremasi hukum tanpa intervensi kekuasaan lokal. (LA/RED)





