Kota Tambolaka, LIKKUABA – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) resmi menetapkan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, sebagai tuan rumah Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) 2025. Agenda empat tahunan ini akan berlangsung pada 18–24 September 2025 dengan sejumlah pertimbangan penting.
Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Zenzi Sahudi, menjelaskan bahwa Sumba dipilih karena masyarakatnya masih menjaga tatanan kehidupan yang relatif utuh dari tujuh sendi peradaban, mulai dari bahasa, kain, arsitektur, sistem pengobatan, hingga pangan.
“Sebanyak 529 organisasi lingkungan hidup dari 23 provinsi hadir di sini. Ketika kembali ke daerah masing-masing, mereka akan membawa referensi tentang bagaimana memulihkan alam dan padang, dengan mencontoh Pulau Sumba,” ujar Zenzi saat ditemui di Bandara Lede Kalumbang, Desa Reda Mata, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Rabu (17/9/2025).
Selain itu, Sumba dinilai memiliki tradisi pengetahuan dan sistem tenun yang masih terjaga. Menurut Zenzi, provinsi lain yang ingin menghidupkan kembali peradaban tenun dapat belajar dari masyarakat Sumba.
“Pulau Sumba juga mewakili ekosistem penting di Indonesia, yakni padang savana. Masyarakatnya telah berhasil membangun tatanan hidup bertani dan berekonomi dengan beradaptasi pada ekologi savana. Sumba bahkan menjadi salah satu penghasil ternak jambu terbesar di Indonesia yang menyuplai kebutuhan berbagai pulau,” jelasnya.
Pertimbangan lain, lanjutnya, adalah karena Sumba merepresentasikan tatanan hidup sekaligus ekologi pulau-pulau kecil di Indonesia. “Atas dasar itu, Sumba diputuskan sebagai tuan rumah PNLH 2025,” tegasnya.
Dalam pertemuan kali ini, WALHI juga akan menggelar Konferensi Internasional Hutankontrovis dengan menghadirkan perwakilan dari berbagai negara pemilik hutan kontroversial. Forum ini diharapkan dapat memperkuat posisi masyarakat dan negara-negara tersebut dalam perundingan global, agar hutan ditempatkan sebagai alat kontrol ekonomi, bukan sekadar objek eksploitasi.
“Selama ini hutan ditempatkan sebagai objek ekonomi. Akibatnya, bukan hanya Indonesia, tetapi seluruh dunia dilatih menghadapi bencana ekologis tanpa henti,” papar Zenzi.
Selain itu, pada 20 September 2025 WALHI akan mendeklarasikan Karir Ekologis di Sumba. Deklarasi ini diharapkan menjadi momentum tahunan bertaraf internasional untuk mengubah cara pandang manusia terhadap alam.
“Karir ekologis tidak sekadar diperingati sebagai seremoni, tetapi ditempatkan sebagai titik balik manusia dalam mengubah cara hidupnya. Menu pertama akan dibuat di Sumba,” ungkapnya.
Zenzi juga berpesan kepada masyarakat Sumba terus menjaga peradaban, pengetahuan, dan adat istiadat yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
“Sesungguhnya tidak ada bangsa yang tertinggal. Sebuah bangsa disebut tertinggal ketika memilih mengikuti peradaban bangsa lain. Peradaban masyarakat Sumba justru kini jauh di depan,” ucapnya.
menutup pernyataan ia menyampaikan penghormatan kepada masyarakat Sumba serta para bupati dari empat kabupaten di Sumba yang sejak awal berkomitmen mendukung jalannya PNLH. (LK/KT)





