KODI, LIKKUABA.COM — Tradisi pesta pora atau wolek yang menjadi kebanggaan masyarakat di wilayah Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, kini menuai sorotan tajam. Pasalnya, kegiatan adat yang dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur itu justru membuat banyak warga terjerat dalam kesulitan ekonomi.
Pantauan media ini pada Kamis (9/10/2025) di wilayah Kodi Balaghar menunjukkan, sejumlah warga mengeluhkan beban ekonomi yang semakin berat akibat pesta adat tersebut. Untuk memenuhi tuntutan tradisi, tak sedikit keluarga terpaksa menjual atau menggadaikan tanah milik pribadi demi memotong kerbau sebagai simbol penghormatan kepada arwah leluhur.
“Pendapatan kami sangat minim. Kalau tidak jual tanah, tidak bisa potong kerbau. Satu ekor kerbau jantan sekarang bisa sampai Rp50 juta lebih,” ujar Paulus Pati Kadu, warga Kodi Balaghar.
Baca Juga: Sumba Jadi Tuan Rumah Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup 2025
Paulus berharap agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk meninjau kembali pelaksanaan pesta wolek yang dinilai semakin memberatkan masyarakat.
“Kami minta ada rapat bersama Bupati, DPRD, Inspektorat, hingga pemerintah desa untuk membahas peraturan baru. Jangan sampai masyarakat terus menderita karena tradisi yang sudah tidak seimbang dengan kemampuan ekonomi,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Donatus, tokoh masyarakat setempat. Ia meminta agar dinas terkait, terutama Dinas Peternakan, turun langsung menangani persoalan ekonomi dan ternak di wilayah Kodi.
Baca Juga: Gubernur NTT Panen Simbolis Padi di Sumba Timur, Dorong Swasembada Pangan
“Kami mohon perhatian dari dinas peternakan agar ada penanganan terhadap hewan dan pembatasan jumlah kurban. Jangan sampai semua kerbau habis karena pesta,” ujarnya.
Menurut data lapangan, satu pesta wolek dapat menghabiskan biaya hingga Rp200 juta per kepala keluarga dengan jumlah pengorbanan mencapai lebih dari 100 ekor kerbau. Angka fantastis ini dinilai sangat tidak sebanding dengan penghasilan masyarakat yang sebagian besar masih bergantung pada pertanian tradisional dan hasil ternak kecil.
Baca Juga: Kapolres Sumba Barat Daya Janji Tindaklanjuti Aspirasi Massa Cipayung Plus
Beberapa warga bahkan meminta agar pelaksanaan pesta wolek dihentikan sementara, setidaknya sampai kondisi ekonomi masyarakat membaik.
“Kami ingin bisa sekolahkan anak-anak dan punya uang makan. Kalau terus pesta, habis semua hasil kerja kami,” kata seorang warga yang enggan disebut namanya.
Baca Juga: Kelompok Tani di Sumba Barat Daya Garap 22 Hektare Lahan, Dapat 10.000 Bibit dari Pemprov NTT
Tradisi wolek sejatinya merupakan warisan budaya leluhur masyarakat Kodi yang sarat dengan nilai spiritual dan sosial. Namun, di tengah tekanan ekonomi yang kian berat, tradisi ini kini menjadi dilema antara mempertahankan adat dan menyelamatkan masa depan keluarga. (LA/MK)





