Likkuaba.com – Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Ratu Ngadu Bonu Wulla, menyatakan keprihatinannya terkait maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Sumba Barat Daya.
“Saya memang mengecam kejadian-kejadian yang tejadi terhadap perempuan dan anak apa lagi modal pemerkosaan apa lagi anak masih kecil-kecil yang mereka punya masa depan,” ujar bupati, Ratu wulla.
Ia menegaskan bahwa kekerasan tersebut tidak hanya menimbulkan trauma mendalam, tetapi juga merusak masa depan bagi mereka.
“bukan saja membunuh psikis mereka tetapi membunuh masa depan mereka membunuh harapan-harapan mimpi-mimpi mereka,” kata bupati.
Menurut Bupati, tindakan tersebut sangat memprihatinkan, terlebih jika pelakunya merupakan orang terdekat, atau orang tua kandung.
“Apa lagi itu di lakukan oleh saudara, ayah ini kalau di bilang menyakitkan sebenarnya sehingga memang saya berharap tidak boleh terjadi lagi,” tegasnya.
Sebagai bentuk penanganan, Pemerintah Kabupaten SBD telah mengaktifkan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak.
Selain itu, pemerintah daerah juga bekerja sama dengan pemerintah provinsi untuk melakukan kampanye pencegahan kekerasan serta memperkuat komitmen daerah dalam menyediakan fasilitas perlindungan bagi perempuan dan anak korban kekerasan.
“Bahkan kemarin dari provinsi hadir di sini mengajak kita untuk melakukan seperti kampanye sehingga mereka minta bagaimana komitmen daerah untuk menyiapkan rumah aman jika terjadi misalnya ada yang mengalami kekerasan mereka harus di tinggal di mana di titipkan di mana?” Jelasnya.
Bupati mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan fasilitas rumah aman bagi korban kekerasan di wilayah Kota Tambolaka.
“Sehingga memang kemarin langsung menyiapkan dua tempat ada tempat kita di Tambolaka kuline senter itu yang bekas ini kios-kios yang sudah rusak kami sudah renovasi dua kamar itu kami siap di gunakan rumah aman bagi anak-anak kita yang mengalami kekerasan yang mengalami pelecehan seksual,” lanjutnya.
Ia menjelaskan bahwa ketika mengalami pelecehan, korban sering kali merasa takut. Bahkan, ada yang mengalami ancaman sehingga mereka tidak berani melaporkan kejadian yang dialaminya.
Selain itu, Bupati mengaku baru menerima informasi terkait kematian Damaris Ronga Milla Mesa, yang biasa di sapa Mama Alvin, yang diduga lakalantas yang viral di media sosial.
“Saya tidak tau persis kejadian di sana saya tidak melihat langsung kondisi yang bersangkutan jadi memang saya prihatin atas kejadian yang terjadi saya juga turut merasakan apa yang merasakan oleh keluarga namun urusan- urusan lain itukan menjadi kewenangan pihak keamanan pihak kepolisian,” tutup bupati.
Pihaknya berharap kepolisian segera menindaklanjuti dan menangani kasus tersebut secara serius.***





