Gollu Poto Terlupakan, Potensi Wisata Religi Terabaikan, Pemerintah Didorong Terlibat

oleh
Gollu Potto Kian Terlupakan, Potensi Wisata Religi Terabaikan, Pemerintah Didorong Terlibat (Likkuaba.com/Petrus kodi hoga)

Likuaba.com – Di perbukitan sunyi Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, berdiri kokoh sebuah simbol iman yang kian terlupakan: Patung Tuhan Yesus Gollu Poto. Dari kejauhan, patung ini tampak anggun menatap hamparan savana luas, langit biru yang membentang, serta hembusan angin yang tak pernah berhenti.

Pada masanya, Gollu Potto, dikenal sebagai destinasi favorit wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah. Letaknya di dataran tinggi menawarkan sudut pandang ideal untuk menikmati keindahan alam Sumba Barat. Kini, daya tarik itu meredup akibat minimnya pengelolaan.

Menurut Drs. Herman, penurunan jumlah pengunjung terjadi bukan tanpa alasan. Ia menilai kondisi fasilitas dan pengelolaan di lokasi tersebut sudah tidak memadai.

“Fasilitas di sini sudah tidak layak, dan pengelolaannya minim,” ujarnya.

Ia menjelaskan, akses menuju lokasi kurang terawat. Selain itu, fasilitas pendukung seperti tempat istirahat, kebersihan, hingga informasi wisata juga hampir tidak tersedia di kawasan Gollu Poto.

Kondisi ini membuat wisatawan merasa kurang nyaman, bahkan enggan untuk kembali berkunjung. Padahal, Gollu Poto memiliki potensi besar apabila dikelola secara optimal. Selain sebagai destinasi wisata religi, kawasan ini juga menawarkan panorama alam yang indah serta nilai fotografi yang tinggi.

Senada dengan itu, Bung Aldi dari GMNI Cabang Sumba Barat menilai bahwa pernyataan Drs. Herman mencerminkan realitas di lapangan.

“Penurunan kunjungan ini bukan karena tempatnya tidak menarik, tetapi karena kurangnya perhatian serius dalam pengelolaan. Ini sangat disayangkan,” ujarnya.

Menurutnya, Gollu Poto berpotensi menjadi ikon wisata religi dan alam yang membanggakan Sumba Barat. Namun, tanpa perbaikan infrastruktur serta keterlibatan aktif berbagai pihak, potensi tersebut akan terus terabaikan.

Ia menegaskan, generasi muda siap mengambil peran dalam mendorong kepedulian publik dan pemerintah terhadap pengembangan destinasi ini.

Ironisnya, di tengah geliat pariwisata Pulau Sumba yang semakin dikenal luas, Gollu Poto justru tertinggal. Sejumlah destinasi lain berkembang dengan dukungan infrastruktur dan promosi, sementara kawasan ini perlahan terabaikan.

Meski demikian, harapan belum tertutup. Dengan kolaborasi pemerintah daerah, masyarakat, dan pengelolaan yang profesional, Gollu Poto dapat kembali berkembang sebagai destinasi unggulan. Ia bukan sekadar patung, tetapi simbol harapan yang menanti untuk dihidupkan kembali.**

Penulis: Petrus kodi hoga
Editor: Kobus Tena

No More Posts Available.

No more pages to load.