Diduga Keracunan MBG, Sejumlah Siswa dan Ibu Hamil di Manggarai Alami Gejala Serupa

oleh

Likkuaba.com – Peristiwa dugaan keracunan makanan terjadi di Desa Ulu Belang, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, sejak Rabu, 11 Februari 2026. Puluhan warga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap hidangan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Papang.

Gejalanya muncul beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. Para korban mulai dari siswa sekolah dasar, guru, balita, ibu hamil, hingga orang tua mengeluhkan demam, mual, muntah, diare, serta nyeri perut. Beberapa di antaranya harus dilarikan ke Puskesmas Ponggeok dan Puskesmas Iteng untuk mendapatkan perawatan medis.

Diketahui, para korban terdiri atas siswa, guru, balita, ibu hamil, dan orang tua. Mereka mengalami gejala serupa, seperti demam, mual, muntah, diare, dan nyeri perut, beberapa jam setelah mengonsumsi makanan MBG. Sebagian korban harus menjalani perawatan di Puskesmas Ponggeok dan Puskesmas Iteng.

Salah satu guru di SDN Ulu Belang, Lena Lensiana, menyebutkan jumlah pasien yang datang hampir bersamaan membuat fasilitas kesehatan tidak mampu menampung seluruhnya dalam waktu bersamaan.

“Puskesmas Ponggeok sudah penuh sejak pagi sampai sore. Bahkan ada pasien yang dipindahkan ke Puskesmas Iteng,” ujarnya melalui unggahan media sosial, Kamis malam, 12 Februari 2026.

Ia menyebut dampak kejadian itu cukup besar. Dari total 185 siswa, sebanyak 131 siswa dan 6 guru dilaporkan mengalami gejala serupa. Kegiatan belajar mengajar pun dihentikan sementara, dan pihak sekolah memutuskan menolak distribusi MBG untuk beberapa hari ke depan.

Berdasarkan pendataan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, sedikitnya 42 orang telah terdata terdampak. Enam belas orang menjalani rawat inap, sementara sisanya mendapatkan perawatan jalan.

Kepala Dinas Kesehatan Manggarai, Jefrin Haryanto, menyampaikan bahwa seluruh korban memiliki riwayat mengonsumsi menu yang sama.

Adapun menu yang dibagikan pada 10 Februari terdiri dari nasi, telur, tempe, kacang panjang, dan salak. Sementara pada 11 Februari, menu yang disajikan berupa nasi, ayam, labu, dan jagung.

“Kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian ini,” kata Jefrin.

Ia menambahkan, tim kesehatan kini melakukan penelusuran epidemiologi dengan mengumpulkan sampel makanan dan spesimen pasien.

Pemerintah Kabupaten Manggarai juga meminta warga yang merasakan gejala serupa agar segera memeriksakan diri guna mencegah kondisi yang lebih serius.

Hingga saat ini, belum ada hasil pemeriksaan laboratorium resmi dari pihak berwenang terkait penyebab peristiwa tersebut.***

 

Sumber: Info Labuan Bajo

No More Posts Available.

No more pages to load.